bisnis.undercover.co.id – Satu hal yang sering dilupakan seorang social media manager adalah terlalu patuh pada cara-cara lama yang dianggap sudah paling pakem. Padahal, dunia maya bergerak dengan kecepatan yang luar biasa.

Makin parahnya, para pengelola media sosial ini tetap bersikukuh dengan metode mereka meskipun angka hasil dan penjualan tetap stagnan, atau malah merosot dari hari ke hari.

Penyebabnya bermacam-macam, bisa karena malas, bisa juga karena abai. Kesalahan yang amat besar, karena berbagai platform media sosial yang sukses jelas sudah bergonta-ganti metode pemasaran sejak pertama kali diluncurkan.

6 Taktik Media Sosial

Alasan lainnya adalah benar-benar tidak tahu. Nah, agar tidak ketinggalanm di bawah ini ada enam taktik media sosial yang sudah sewajarnya Anda tinggalkan. Simak baik-baik:

Cuma Posting Link

Sangat dipahami apabila kita merasa bangga dengan website atau konten buatan kita.

Rasanya tidak sabar untuk membagikannya kepada orang lain, dan para followers Anda di media sosial boleh jadi juga tertarik pada isu atau produk yang Anda tawarkan.

Namun, apa jadinya jika media sosial Anda melulu hanya berisi link alias URL? Tentunya, itu bukan pemandangan yang elok bagi followers Anda. Lama-kelamaan, mereka akan berhenti mengikuti Anda di media sosial, dan itu jelas berpengaruh pada kelanjutan bisnis.

Tidak seorang pun sengaja berselancar di Internet cuma untuk dijejali iklan.

Daripada begitu, inilah yang sebaiknya Anda lakukan:

Setelah “Follow”, langsung “Pitch”

Siapa saja yang pernah menggunakan media sosial pasti pernah menemui kesalahkaprahan ini. Anda bertemu suatu akun yang tampak menarik, dan teman-teman Anda pun sudah banyak yang mem-follownya. Tanpa pikir panjang, Anda pun memfollownya. Hampir seketika setelah  Anda menekan Follow, akun itu langsung mengirimi anda pesan salam kenal dan promosi produk mereka.

Menyebalkan? Sebagian besar konsumen berpikir seperti itu. Bentuk interaksi demikian membuat pengguna merasa diprospek, bukan diajak berteman. Kesannya dingin, padahal media sosial adalah tempat berteman dan berbagi.

Bayangkanlah seperti bertemu seorang kawan baru di jalanan yang tiba-tiba menyodorkan kartu nama perusahaan pada Anda.

Agar tidak begitu, inilah yang sebaiknya lakukan:

Memfollow Sebanyak-Banyaknya untuk Mendapatkan Follower

Ini praktik yang paling sering kita temui. Mendeteksinya mudah, cari saja akun yang jumlah Following dan Followernya hampir sama. Cara kerjanya memang seperti itu;  banyak sekali akun yang akan balik mengikuti jika kita memfollownya.

Pertanda lainnya adalah, biarpun jumlah follower dan followingnya ribuan, bahkan jutaan, tingkat engagementnya rendah. Hampir tidak ada interaksi yang berarti antara si pemilik akun dengan akun-akun lainnya.

Meskipun sejauh ini cara ini terbilang “sukses”, mengapa sebaiknya ditinggalkan?

Setidaknya ada dua alasan:

Menggunakan Bot Auto-Engagement

Bot-bot auto-engagement, pada dasarnya, adalah perangkat yang memfasilitasi automasi tindakan seperti memberikan Like atau reshare konten-konten dari akun-akun yang Anda follow.

Mirip dengan taktik following sebanyak-banyaknya yang dideskripsikan di atas, tujuannya adalah memalsukan minat dan ketertarikan kita untuk mendongkrak keeksisan akun Anda dan menjalin kontak dengan para follower Anda, dengan harapan mereka juga akan balas memerhatikan Anda.

Dan seperti auto-follower pula, akun-akun bot semacam ini juga mudah dideteksi. Pernahkah Anda punya follower yang selalu memberikan Like, Reshare, atau sejenisnya pada apa pun postingan Anda dengan kecematan yang tidak masuk akal, seperti tiga detik setelah di-post misalnya? Nah bisa jadi, itulah bot.

Mengapa bot-bot ini harus berhenti Anda berlakukan? Inilah alasan-alasannya:

Dan, inilah yang seharusnya Anda lakukan:

Terpaku pada Jam-Jam Tertentu

Pada hakikatnya, tidak ada yang salah dengan memosting konten hanya pada jam-jam ketika–menurut berbagai penelitian–sebagian besar orang yang mem-follow Anda sedang Online agar mereka bisa melihat update Anda.

Namun satu hal yang perlu diingat adalah itu hanya rata-rata. Penelitian itu merujuk pada rata-rata orang di dunia dan jam Online mereka, yang kemudian menjadi penentu ideal bagi kebanyakan pelaku bisnis dalam memasarkan kontennya. Dan, cacat terbesar dari strategi ini adalah sama saja mengasumsikan bahwa para follower Anda hanya orang kebanyakan.

Padahal, belum tentu hasil studi dan riset itu berlaku bagi para follower Anda. Ada baiknya Anda kenali dengan baik terlebih dahulu para follower Anda untuk mengetahui apakah mereka termasuk ke dalam tipe klasik orang kebanyakan. Penelitian-penelitian semacam itu mengambil sampel para pengguna Internet pada umumnya, tetapi bagaimana jika ternyata follower Anda berbeda?

Jangan kesampingkan kemungkinan itu.

Alih-alih, ini yang sebaiknya Anda lakukan:

Tidak Mengoptimalkan Konten Anda untuk Sharing

Para pembuat konten mungkin sudah jago masalah SEO, tapi tidak banyak yang memikirkan tentang optimasi opsi social sharing.  Dalam arti, membagikan isi konten kita ke platform media sosial lain.

Menurut data, dewasa ini konten untuk dibagi sudah banyak, tetapi social sharing malah semakin menurun di antara para pengguna media sosial. Ini berarti kesempatan bagi konten Anda untuk dibagi semakin sedikit daripada dulu.

baca juga

Riset itu juga menyatakan bahwa semakin Anda membuat mudah pembagian konten ini, semakin besar kemungkinannya untuk dibagikan.

Jadi, apa yang harus dilakukan?

Nah, enam taktik tadi sudah mengalami habis masa. Untuk mengimbangi arus bisnis masa kini yang bergerak tanpa henti, Anda juga tidak boleh berhenti berinovasi dan terpaku pada cara-cara lama. Sukses terus dan simak artikel-artikel kami yang lain.