Email transaksional muncul sebagai kategori email di akhir 1990-an ketika pemain ecommerce mulai mengirimkan struk pembelian dan bukti pengiriman melalui email.

Jenis pengiriman semacam ini kemudian dipadatkan menjadi sebuah kategori email khusus pada tahun 2003, ketika UU Informasi dan Transaksi Elektronik mengecualikan “pesan berbasis hubungan dan transaksional” dari regulasi dan peraturan pemasaran tradisional atau email komersial.

Tapi apa itu email transaksional? Seperti apa contoh email transaksional, dan seperti apa email transaksional di era yang lebih modern?

Di artikel kali ini, situs kami akan membahas tentang email transaksional dan pemanfaatannya.

Definisi

Email transaksional secara definisi adalah pesan apa pun yang tujuan utamanya adalah “menginformasikan transaksi yang sudah disepakati atau memberi pelanggan informasi terbaru seputar transaksi yang sedang berlangsung.”

Jika pesan hanya berisi konten komersial, maka tujuan utama dari pesan tersebut adalah komersial. Dan itu harus memenuhi persyaratan dari UU yang berlaku. Sementara, jika pesan hanya berisi konten transaksional, maka tujuan utamanya adalah untuk memfasilitasi hubungan yang telah ditetapkan selama transaksi.

Karena perbedaan ini, email transaksional dikecualikan dari sebagian besar ketentuan UU Informasi Dan Transaksi Elektronik.

 

Email Transaksional di Era Sekarang

Hari ini, email transaksional mencakup email apa pun yang dipicu oleh interaksi pengguna dengan aplikasi web, termasuk opt-in, konfirmasi penggantian kata sandi, check-in, notifikasi, serta request follower atau pertemanan.

Email transaksional ini biasanya berisi informasi yang diinginkan atau dibutuhkan pengguna dan akibatnya memiliki tarif pembukaan email paling tinggi di antara semua kategori email.

Open rate alias rasio pembukaan email transaksional terbilang tinggi karena pelanggan memang mengharapkan untuk menerimanya, dan bahkan menyambut pesan-pesan ini dengan tangan terbuka.

Sebuah laporan dari Borrell Associates, Inc. dan Merkle mengungkapkan bahwa 64% konsumen menganggap email transaksional sebagai pesan paling berharga di kotak masuk mereka.

Akibatnya, email transaksional juga memiliki manfaat yang secara langsung dalam menghasilkan peningkatan penjualan — mereka dapat menghasilkan pendapatan rata-rata per email yang dua hingga lima kali lebih besar daripada email broadcast massal.

Email Marketing vs Email Tradisional

Sejalan dengan penggunaan email transaksional, sejumlah orang bertanya kepada kami tentang bagaimana jenis email ini dapat dibedakan dengan email marketing tradisional.

Jika Anda melakukan pencarian Google untuk menemukan perbedaannya, Anda mungkin akan menemukan definisi yang rancu, membuat Anda bertanya-tanya tentang apa bedanya email transaksional versus email pemasaran tradisional, dan kapan harus mengirim salah satunya.

Untuk memperjelas perbedaan keduanya, mari kita bedah lebih dalam.

 

Definisi Email Marketing & Transaksional

Sebelum kita membahas perbedaannya, dan jenis email mana yang harus Anda kirim, mari kita definisikan dua jenis email yang dari tadi kita bicarakan.

Email marketing: Semua email yang dikirim berisi pesan atau konten komersial yang ditujukan untuk tujuan komersial (yaitu merawat dan mempertahankan prospek melalui saluran pemasaran email) dianggap sebagai email pemasaran dan harus mengikuti peraturan yang ada.

Email pemasaran umumnya dikirim ke sekelompok kontak yang merupakan prospek atau pelanggan.

Email Transaksional: Email privasi yang berisi informasi, bertujuan yang melengkapi proses transaksi atau proses penerima yang telah dimulai dari Anda. Contoh umum adalah dalam e-commerce, adalah setelah membeli suatu barang secara online, Anda menerima tanda terima email yang memiliki informasi tentang barang, harga, dan pengiriman.

Email transaksional dikirim ke individu, bukan ke daftar penerima massal.

Cara Memanfaatkan Email Transaksional untuk Bisnis Anda

Nah, tadi kita sudah membahas tentang definisi dari email transaksional serta perbedaannya dengan email marketing.

Meski memiliki dua jalan, namun pada kenyataannya beberapa perusahaan mencoba menggabungkan email marketing dan transaksional, sehingga email transaksional tak hanya berfungsi untuk memberi informasi, namun juga untuk meningkatkan penjualan.

Bagaimana caranya?

 

1. Up-selling Produk

Rata-rata pelanggan di situs ecommerce seperti Amazon dapat menerima empat email transaksional setiap kali mereka melakukan pembelian.

Email pertama dikirim segera setelah transaksi selesai. Email ini kemudian diikuti dengan email yang mengkonfirmasi pengiriman produk, berikutnya mengingatkan pengguna saat produk keluar dari gudang dan siap dikirim, lalu email terakhir untuk mengkonfirmasi pengiriman.

Satu hal yang dilakukan Amazon adalah menambahkan daftar list produk lain yang mungkin diminati pelanggan. Tujuannya, selain menginformasikan seputar “nasib” barang yang Anda beli, juga sebagai upaya upselling produk.

 

2. Meningkatkan Engagement Audiens

Keberhasilan sebuah situs semacam BuzzFeed dan Elite Daily bergantung pada kemampuannya untuk melibatkan dan menghibur para pembacanya. Rata-rata satu pengunjung bisa melihat hampir 45 halaman konten setiap bulan.

Pada saat yang sama, keberlangsungan jangka panjang dari platform seperti BuzzFeed tergantung pada kemampuannya untuk menghasilkan list email.

Tapi bagaimana caranya mendapatkan pengguna untuk mendaftar tanpa melanggar proses konsumsi konten yang terjadi? BuzzFeed melakukannya dengan cara menyisipkan konten terbaru mereka di dalam email transaksional. Jadi jika ada notifikasi bahwa Anda berhasil opt-in, di dalam email tersebut juga terselip link menuju artikel-artikel terbaru.

baca juga

bisnis.undercover.co.id

Website Cuma 100 Ribu

Pembuatan Website Profesional

Jasa Seo Profesional dan Terpercaya

Jasa Sosial Media Maintenance

3. Giveaway

Glassdoor adalah sebuah tool yang digunakan bagi para pencari kerja untuk mendapatkan informasi seputar berapa pendapatan yang diperoleh rekan-rekan mereka. Tetapi tool ini hanya akan berjalan selama pengguna terus membagikan rincian pendapatan mereka di dalam situs.

Glassdoor secara rutin mengatur promo untuk mendorong lebih banyak pengguna agar membagikan detail pembayaran terbaru mereka. Giveaway ini juga dipromosikan dalam email transaksional yang dikirimkan baik pada pengguna baru maupun yang sudah ada.

4. Referral Marketing

Uber adalah contoh bagus dari perusahaan yang tumbuh melalui referral.

Perusahaan ini menawarkan diskon menarik bagi pengguna yang merujuk orang lain untuk menggunakan layanan berbasis aplikasi ini.

Pengguna yang menumpang di Uber akan dikirimi faktur di akhir perjalanan mereka, dan pemberitahuan ini juga diisi dengan call-to-action untuk merujuk pelanggan lain untuk menggunakan Uber.

baca juga

Jasa Pembuatan Website Profesional

Panduan Memulai Website Bisnis Anda

Jasa SEO Google Perusahaan Jakarta

Peranan SEO Dalam Meningkatkan Profit Bisnis Perusahaan

Pelatihan Private Kursus SEO Untuk Karyawan Dan Pebisnis

30 Daftar Jasa SEO Jakarta Dan Indonesia

Pasang Iklan

bisnis.undercover.co.id Media Promosi Bisnis Anda

Iklan Advetorial

Jasa Sosial Media

Email Marketing

26 Panduan Email Marketing Lengkap

Top 30 Agensi Advertising Yang Ada Di Jakarta

5. Mengingatkan Pengguna tentang barang yang belum dibayar

Anda juga bisa memanfaatkan email transaksional untuk mengingatkan pengguna tentang barang di keranjang belanja yang sudah mau dibeli, tapi transaksinya belum diselesaikan.

Batasan antara transaksional dan marketing di sini sangat rancu, tapi ingat: di dalam email ini Anda hanya mengingatkan. Anda tidak murni melakukan penjualan di sini, hanya mengingatkan saja.

Nah, demikian tadi definisi tentang email transaksional dan cara memanfaatkannya. Semoga membantu!